Categories

Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

SoundsFair 2014

SOUNDSFAIR 2014

Sebuah festival baru dengan sentuhan art menghadirkan pengalaman baru bagi para pecinta konser musik. Beberapa genre seperti rock, RnB, hingga electronic menjadi sajian yang memanjakan telinga.



     Perhelatan akbar musik dan seni, SoundsFair, untuk pertama kalinya digelar oleh Java Festival Production (JFP). Festival musik, pameran karya seni, pameran produk, hingga barbershop ada di festival yang berlangsung pada 24, 25, dan 26 Oktober 2014 di Jakarta Convention Center (JCC).  Musisi lokal dan internasional memeriahkan Sembilan panggung yang ada di JCC.

     RAN menjadi pembuka meriahnya konser di Plenary Hall yang menjadi panggung utama festival ini. Panggung ini semakin dipadati penonton saat Sophie Ellis-Bextor yang berhasil membakar semangat mereka. Beberapa lagu seperti ‘Young Blood’, ‘Untill The Stars Collide’, ‘Murder on the Dancefloor,’ hingga ‘Take Me Home’ membuat suasana semakin bergemuruh. Tidak hanya itu, penonton semakin terpana saat ia berganti kostum dengan dress hijau semi transparan. Sementara itu di ruang Cendrawasih 1 dan 2, kelompok musik beraliran ska dan jazz, Tokyo Ska Paradise Orchestra membuat penonton membeludak hingga keluar ruangan. Meski tanpa vokal, musik yang cepat dengan gerakan atraktif di atas panggung membuat penonton bergoyang dengan energik.

     Setelah itu giliran Magic! yang membuat penoton mengantri untuk menyaksikannya. Band yang digawangi Nasri Atweh, Mark Pellizzer, Ben Spivak, dan Alex Tanas langsung membuat riuh penonton sambil bergoyang. Hits paling favorit saat ini, ‘Rude’, menjadi lagu penutup dari Magic! dan sekaligus menutup panggung utama hari pertama. Nama-nama lain yang ikut memeriahkan hari pembuka ini ada Asian Dub Foundation, My Skin Againts Your Skins, Rock n Roll Mafia, Bottlesmoker, Superglad, dan masih banyak lagi.

     Di hari kedua, Ipang, Cody Simpson, Tulus, Maliq n D’Essentials, Poolside, Teman Sebangku, Cibo Mato, The BRNLDS, hingga Gilbert Pohan ikut meramaikan suasana SoundsFair. Ipang Lazuardi menjadi penampil pertama di panggung utama yang membuat teriakan histeris penonton menggema dalam venue. Sebelumnya, Maliq telah meramaikan panggung Cendrawasih. Penampilannya yang energik dengan koreografi apik membuat peonton ikut berjoget.

     Namun Cody Simpson lah yang menjadi bintang utama di hari kedua. Pelantun lagu ‘Love’ dan ‘La Da Dee’ ini membuat ratusan remaja putri menunggu di depan pintu masuk dengan beralaskan lantai. Teriakan histeris langsung bergema begitu tirai panggung penyanyi berusia tujuh belas tahun ini dibuka. Dan panggung utama ditutup dengan penampilan Tulus yang memberikan hiburan menarik lewat lagu-lagunya yang sedang digemari saat ini. Penampilan manisnya ini berakhir seiring lagu Jangan ‘Cintai Aku Apa Adanya’ dan ‘Sewindu’.

     Ari Lasso, Yuna, The Jacksons, Mocca, The S.I.G.I.T, Adhitia Sofyan, Teza Sumenda, Float, menjadi beberapa nama yang mengisi Soundsfair hari terakhir. Ratusan penonton telah siap di depan panggung menantikan Ari Lasso yang menjadi penampil pertama di panggung utama. Lagu-lagu seperti ‘Mengejar Matahari’, ‘Badai Pasti Berlalu’, ‘Rahasia Perempuan’, hingga ‘Misteri Ilahi’ membuat penonton ikut bernyanyi. Sementara itu di panggung lain, Mocca membawakan lagu barunya tentang kota asal mereka, Bandung. Dengan suara merdunya, Arina menjadikan seisi ruang terasa teduh. Penonton pun memberikan tepuk tangan meriah untuk aksi Mocca dengan lagu-lagunya seperti ‘My Only One’, ‘Secret Admirer’, hingga ‘Do what You Wanna Do’.

     Dan yang paling dinantikan di hari pamungkas ini adalah The Jacksons. Teriakan penonton semakin menjadi-jadi saat tirai panggung dibuka. Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon Jackson langsung menampilkan koreografi yang enerjik dalam lagu Can You Feel. Walaupun tak muda lagi, mereka tetap energik dan kompak mulai dari lagu pertama hingga akhir. Ratusan penonton pun tak mau kalah dengan ikut berjoget mengikuti alunan musik.  Dua lagu fenomenal, ‘I Want You Back’ dan ‘I’ll Be There’ membuat penonton ikut bernyanyi. Penonton pun diajak bernostalgia saat video perjalanan panjang The Jacksons termasuk saat diperkuat King of Pop, Michael Jackson diputar. Akhirnya lagu ‘Shake Your Body’ menutup penampilan para legenda tersebut dan penonton pun memberikan apresiasi tinggi atas penampilannya.


















Teks & Foto: Riman Saputra N


Jumat, 13 Juni 2014

Flanel


TOPLES UNIK DAN CANTIK DARI FLANEL

Balutan kain flanel disertai hiasan berbentuk buah, bunga dan juga pita yang berwarna-warni mengubah toples bak kue yang unik dan cantik.



     Dengan sedikit sentuhan kreatif, sebuah toples yang mulanya biasa dapat diubah menjadi unik dan cantik. Selain itu juga tentunya dapat menambah pemasukan, terutama menjelang hari raya. Harga yang ditawarkan beragam, mulai dari sekitar Rp. 30.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kreasinya. Melihat dari tampilannya yang cantik, toples ini bisa menjadi pajangan di ruang tamu selain berfungsi sebagai tempat menyimpan kue.

     Kreasi pada toples ini dapat dilakukan dengan berbagai media, salah satunya menggunakan kain flanel.  Bentuk-bentuk seperti stroberi, ceri, kiwi, jeruk, apel, mawar, astor hingga cream menjadi penghiasnya. Pita pun kadang digunakan untuk mempercantik tampilan toples. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan tidak banyak, seperti toples bening, kain flanel, pita, gunting dan lem tembak.

     Kreasi ini dimulai dengan membalut tutup dan alas toples menggunakan kain flanel. Setelah toples terbungkus kain flanel dengan rapi, dilanjutkan dengan menempelkan topping berupa hiasan-hiasan buah dan bunga di bagian atas. Untuk toples bagian bawahnya dapat dihiasi pita maupun kain flanel yang sudah dibentuk.
Untuk pembuatan topping nya dimulai dengan menggambar pola pada kertas agak tebal yang kemudian digunting untuk dijadikan panduan saat membentuk kain flanel. Setelah bentuk-bentuk dasar selesai dibuat dari kain flanel, dilanjutkan dengan menempel atau menjahitnya menjadi buah ataupun bunga sesuai yang diperlukan. Topping pun siap ditempel.

     Setelah itu, toples unik berbentuk kue pun siap dipajang. Mulai dari bentuk kue ulang tahun, kue tart hingga blackforest dapat dibuat menggunakan kain flanel. Toples dapat dibuat sesuai yang diinginkan, mulai dari pemilihan warna, jenis kue hingga pemilihan jenis-jenis topping nya. Seperti untuk saat Lebaran, topping berbentuk ketupat pun bisa dimasukkan untuk mempercantik tampilan toples. Anda tertarik?








Teks & Foto: Riman Saputra N



Rabu, 11 Juni 2014

Kampung Naga


KAMPUNG NAGA
HIDUP BERSAMA ALAM

Kampung Naga bukanlah tempat wisata. Kampung Naga adalah kampung adat. Masyarakat Naga memegang teguh adat istiadat leluhurnya, sehingga sejak jaman dahulu hingga sekarang tidak ada yang berubah dari Kampung Naga. Kampung Naga tetap lestari.

Susunan rumah di Kampung Naga


     Penamaan Kampung Naga tidak ada hubungannya dengan karakter naga di film-film atau cerita-cerita. Masyarakat Naga tidak ada yang tahu asal usul nama Naga. Mereka hanya bisa menerka-nerka saja, yang katanya kemungkinan berasal dari nagawir yang artinya berada di lembah. Jika dilihat dari letaknya memang Kampung Naga ini berada di lembah.

Tugu Kujang Pusaka
     ‘Hidup bersama alam, bukan hidup dengan alam’, itulah filosofi hidup di Kampung Naga. Hidup bersama alam berbeda dengan hidup di alam. Hidup bersama alam maka alam dipelihara, jika hidup di alam kadang alamnya dirusak. Dalam agama disebutkan, ‘bumi, air beserta isinya silahkan digunakan untuk manusia, tetapi jangan sekali-kali merusak yang ada’. Masyarakat Naga juga menggunakan alam untuk kehidupannya, seperti mengambil kayu untuk kayu bakar atau untuk membangun rumah, tetapi tidak pernah merusak hutan. Hutan yang ada dibiarkan. Mereka menanam kayu di tanah yang tidak bisa ditanami padi. Sesuai prinsipnya, ‘jika ingin mengambil kayu harus bisa menanam dahulu, jika mau mengambil satu, harus bisa menanam 10.’ Hasilnya hutan di kampung adat selalu lestari.

     Kampung Naga yang berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini merupakan sebuah perkampungan adat yang masyarakatnya masih memegang kuat adat istiadat peninggalan leluhurnya. Mereka melestarikan kebudayaan nenek moyang tanpa terpengaruh oleh budaya luar. Terletak tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan Tasikmalaya. Aliran sungai Ciwulan membatasi Kampung Naga bagian utara dan timur, sawah-sawah penduduk membatasi sebelah selatan dan hutan keramat yang terdapat makam Sembah Eyang Singaparna di sebelah barat. Sehingga Kampung Naga ini benar-benar dikelilingi oleh alam.

Tangga yang harus dituruni
     Sebelum memasuki area Kampung Naga, kita sudah disambut dengan adanya Tugu Kujang Pusaka yang berada di lapangan parkir. Kujang yang berada di atas tugu adalah kujang terbesar di dunia, yang dibentuk dari kurang lebih 900 kujang peninggalan raja-raja Sunda dan Nusantara. Di bagian bawah tugu terdapat ruangan kecil yang berisi beberapa benda pusaka dari berbagai daerah di Indonesia.

     Untuk menuju area Kampung Naga, kita harus menuruni tangga yang berjarak kurang lebih 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat hingga sampai ke tepi sungai Ciwulan. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga yang hanya memiliki area pemukiman seluas 1,5 hektar yang dibatasi oleh pagar bambu. Di area pemukiman ini hanya terdapat 113 bangunan, yaitu Mesjid, balai pertemuan, lumbung padi umum yang digunakan untuk persediaan padi pada saat musim paceklik, 2 bumi ageung (bangunan yang dianggap suci) dan 108 rumah penduduk. Untuk jamban dan kandang ternak berada di luar rumah, yang menjadikannya milik bersama. Masyarakat Naga semuanya memeluk agama Islam, namun dalam pelaksanaannya menjadi sedikit berbeda karena tetap mengikuti adat istiadat yang sudah ada dari leluhurnya.

Mata Pencaharian

     Di sekitar pemukiman kita bisa melihat hamparan sawah yang luas. Ya, itu adalah sawah-sawah milik masyarakat Naga. Masyarakat Naga benar-benar bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesepuh tidak pernah membatasi lahan masyarakatnya di luar area pemukiman. Dengan terlihatnya hamparan sawah yang luas, kita bisa mengetahui bahwa sebagian besar masyarakat Naga bercocok tanam. Selain bercocok tanam, ada juga yang membuat kerajinan, berdagang dan ahli bangunan Sunda.

Indahnya alam di sekitar Kampung Naga

Awal masuk perkampungan
     Eh, tunggu dulu! Ada yang menarik dalam sistem pertanian Kampung Naga, semuanya menggunakan sistem organik mulai dari proses penanaman, pengolahan hingga menjadi nasi. Dalam mempertahankan kualitas padi dan menghindari hama, mereka menggunakan sistem pertanian janli, yaitu menanam padi hanya di bulan Januari dan Juli. Hama tidak dibasmi tetapi dibiarkan, karena mereka percaya bahwa semua makhluk hidup tidak ada yang merugikan dan juga untuk menjaga keseimbangan alam. Ada pepatah mengatakan jika ingin dipikawelas asih (dikasihi) kita juga harus mikawelas asih (mengasihi). Sama halnya terhadap hama.
 
Menumbuk padi
     Masyarakat Naga percaya jika padi itu Dewi Sri, seorang wanita, maka harus diperlakukan sebagai seorang wanita. Ada seorang canoli yang akan memimpim upacara penanaman padi. Dimulai dari sebelum tandur, diiringi oleh karinding sampai padi menguning, dengan maksud supaya tidak terganggu hama. Kemudian saat mulai menanam diiringi oleh suanten bancet karena padi harus terkena air. Bancet (katak) mengeluarkan bunyi di air. Yang terakhir, dilakukan suanten tongeret ketika panen, saat panas. Yang lebih menarik lagi saat padi reuneuh (hamil), padi disuguhan oleh rujak yang asam. Seperti halnya saat wanita sedang hamil senang makan rujak. Ada juga saat padi mulai menguning dilakukan upacara nyarian (memberi sari), dengan maksud supaya padi menjadi ada rasanya.




Bangunan

Rumah di Kampung Naga
     Dari kejauhan, kita bisa melihat bentuk rumah di Kampung Naga yang terlihat sama. Setelah diperhatikan ternyata bangunan yang berjumlah 113 itu memang hampir sama, hanya ukurannya saja yang bisa terlihat beda dan semuanya berbentuk rumah panggung. Bahan yang digunakan semuanya dari alam, sesuai filosofinya ‘hidup bersama alam’. Posisi rumahnya menghadap utara dan selatan, sehingga rumah menjadi saling berhadapan dan saling membelakangi. Sesuai dengan filosofinya pola hidup sederhana, gotong royong, saling tolong menolong dan hidup bersama alam, maka pintu dibuat menghadap pintu, sehingga sosialisasinya pun lebih baik.

     Struktur bangunan di Kampung Naga sama dengan struktur bangunan Sunda, diibaratkan seperti struktur manusia. Ada kaki, badan dan kepalanya. Kakinya adalah fondasinya, batu tatapakan, yang fungsinya sama seperti kuda-kuda dalam silat atau shockbreaker pada mobil, sehingga saat terjadi gempa, bagian atas mengikuti goyangan kakinya. Tidak seperti tembok yang cenderung kaku. Bagian badannya adalah ruangannya yang terbuat dari kayu. Untuk kepalanya adalah atapnya yang menggunakan ijuk dilapisi tepus. Dengan menggunakan atap dari ijuk dapat membuat siang hari yang panas terasa adem, dan saat malam terasa hangat.




   
Posisi rumah yang saling berhadapan
     Saat memasuki rumah di Kampung Naga, dalamnya sama seperti umumnya rumah Sunda, aktifitas semuanya dilakukan di ruang depan, tempat beristirahat dan dapur di belakang. Sementara itu ruangan –ruangan lain menjadi opsional karena adanya sekat (pembatas). Tidak adanya kursi di semua rumah menjadi daya tarik tersendiri. Ini terjadi karena masyarakat Naga memegang teguh pada filosofi ‘duduk sama rendah, berdiri sama tinggi’ dan bahwa semua manusia sama kodratnya di hadapan Tuhan. Posisi duduk pun ada pantangannya, dimana kaki tidak boleh selonjoran ke arah kiblat. Penggunaan tenaga matahari dan baterai dapat menggantikan listrik, sehingga masyarakat Naga masih bisa menonton TV dan aktifitas lainnya yang umumnya menggunakan listrik. Dan pada malam hari, masyarakat Naga menggunakan petromax untuk penerangannya.

Kesenian
Penduduk memainkan alat musik tradisional
     Saat berjalan-jalan di dalam area Kampung Naga, kita bertemu dengan warga Naga yang sedang bermain musik. Mereka memainkan karinding, celempung dan suling. Masyarakat Naga membuat ketiga alat musik tersebut sendiri. Dari ketiga alat musik tersebut, karinding adalah yang paling khas. Alat musik kayu dengan 3 nada yang dimainkan dengan cara dipukul 7 kali (sesuai jumlah hari dalam seminggu). Musik karinding ini dipercaya sudah ada sejak 500 tahun lalu yang biasa dimainkan untuk upacara panen.

    Sementara itu, kesenian yang ada di Kampung Naga hanya tiga, yaitu terbang gentung, terbang sajak dan angklung. Terbang gentung berbeda dengan dua kesenian lainnya yang bisa dipentaskan kapan saja. Terbang gentung hanya dipentaskan saat shalawat nabi saja.

How to get there:
Jalur Garut - Dari Terminal Lebak Bulus Jakarta naik bus Primajasa menuju terminal Garut, ongkos Rp. 35.000,-. Kemudian dari terminal Garut naik elf atau bis kecil menuju Kampung Naga, ongkos berkisar antara Rp.7.500.- Rp.15.000 -
Jalur Tasik - dari terminal Lebak Bulus Jakarta naik bus Primajasa menuju terminal Tasik, ongkos Rp. 40.000,- kemudian dari terminal Tasik naik elf atau bis kecil menuju Kampung Naga, ongkos berkisar antara Rp.10.000,- Rp. 20.000,-

Ruang tengah rumah

Dapur

Anak-anak bersantai di kolam

Bermain di lapangan


Teks & Foto: Riman Saputra N

Domba Garut


SAAT DOMBA GARUT BERLAGA

Salah Satu Kebudayaan Masyarakat Garut Yang Masih Hidup

Suara gemeretak terdengar diantara tetabuhan gamelan dan riuh rendah sorak penonton. Suara tersebut dari benturan dua kepala domba yang saling beradu dalam ajang ketangkasan. Inilah salah satu warisan budaya Garut yang masih hidup hingga sekarang.
Saat domba saling beradu

     Kota Garut, Jawa Barat, yang terletak tidak terlalu jauh dari ibukota dan mudah dijangkau menjadikan kota Garut menjadi salah satu tujuan wisata bagi para  wisatawan. Baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara. Tidak hanya wisata alamnya saja yang menjadi daya tarik kota ini, wisata kuliner dan wisata budaya-nya pun patut dilirik. Ada salah satu wisata budaya yang menarik dan berbeda di kota ini, wisata Domba Garut.



   
Diajak jalan-jalan
     Sesuai dengan namanya, domba ini merupakan domba asli kota Garut. Domba Garut ini berbeda dengan domba-domba lainnya yang ada di Indonesia dan juga bukan jenis domba potong. Postur tubuhnya yang besar berotot serta tanduknya yang besar menjadikan Domba Garut ini unik. Keunikan yang lain adalah sering diadakannya kontes “Seni Ketangkasan Domba Garut Unggulan”, yang sudah membudaya di Garut sejak jaman dahulu.

Dibawa masuk ke kolam
     Kontes “Seni Ketangkasan Domba Garut Unggulan” bukan hanya sekedar kontes. Domba-domba Garut yang sehat dan sudah siap tampil saja yang dapat mengikuti kontes ini. Para pemilik benar-benar harus memperhatikan kesehatan, tampilan dan ketangkasan domba-dombanya untuk dapat mengikuti kontes dan menghibur para penonton. Satu minggu sekali, Domba Garut yang akan diikutsertakan dalam kontes akan diajak berjalan-jalan keluar dari kandang lalu diojaykeun (dimandikan). Domba Garut ini akan berenang-renang hingga dirasa cukup oleh si pemelihara. Setelah berenang, domba akan dibersihkan menggunakan sabun dan sikat, lalu dibersihkan. Jika bulu-bulu domba sudah dirasa terlalu panjang, maka domba akan dicukur. Hal ini dilakukan agar kesehatan domba terjaga. Setelah itu, domba akan diberi minum jamu yang berfungsi untuk memulihkan staminanya.
 
Diojaykeun
     Setiap dua minggu diadakan latihan untuk domba-domba Garut. Ini untuk melatih ketangkasan domba-domba Garut agar siap saat nanti diadakan kontes. Dalam latihan ini dapat diikuti domba yang sudah pernah ikut kontes maupun yang belum pernah. Domba-domba yang usianya masih muda banyak melakukan latihan untuk mendapatkan pengalaman. Setelah melakukan beberapa kali latihan dan dirasa sudah cukup pengalaman, baru domba-domba ini diikutkan kontes. Sistem yang dilakukan dalam latihan ini sama dengan sistem dalam kontes, bedanya dalam latihan, domba-domba masih harus banyak dipandu oleh si pemelihara.

     Yang paling menarik dan paling ditunggu adalah hari diadakannya kontes “Seni Ketangkasan Domba Garut Unggulan”. Banyak orang berdatangan untuk menyaksikan kontes ini, bukan hanya orang-orang Garut saja, tetapi banyak juga dari luar Garut. Kontes ini biasanya dilaksanakan dalam dua hari, Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu untuk kontes Domba Garut kelas C dan hari Minggu untuk kontes Domba Garut kelas A dan B. Kelas-kelas ini dibuat berdasarkan berat badan domba, kelas C yang paling ringan dan kelas A yang paling berat.

     Saat kontes pun tiba. Mobil-mobil bak terbuka berdatangan membawa domba masing-masing, bukan hanya dari Garut, ada juga yang dari Bandung, Sumedang, Tasik dan kota-kota lain di Jawa Barat. Pagi hari di lapangan tempat diselenggarakannya kontes sudah penuh dengan domba-domba Garut yang akan ikut kontes, lapangan pun berubah menjadi seperti pasar domba. Orang-orang dengan baju pangsi-nya mulai berdatangan membawa dombanya masing-masing. Sama seperti silat, domba-domba ini juga memiliki padepokan masing-masing. Domba-domba ini didandani serta sudah dicukur rapi sehingga terlihat bersih dan sehat. Mereka kemudian memilih lawan tanding yang sesuai untuk dombanya lalu didaftarkan.

Suasana di lapangan
     Dari kejauhan sudah terdengar tatabeuhan (iringan) gamelan dengan lagu-lagu Sunda yang akan mengiringi kontes ini.  Penonton pun sudah mulai memadati arena kontes. Kontes ini dipimpin oleh seorang wasit dan dinilai oleh 4 orang juri. Dalam kontes ini dibatasi sampai 20 pukulan, untuk menghindari resiko cedera parah pada domba. Setelah domba melakukan 10 sampai 15 pukulan, atau mengalami pukulan yang sangat keras, dilakukan perawatan dahulu pada si domba dengan memijat leher, badan, dan kakinya. Kemudian dilanjutkan kembali hingga pukulan ke 20. Jika wasit menilai salah satu domba sudah tidak mau melakukan pukulan lagi, maka pertandingan pun dihentikan.Yang menjadi penilaian disini adalah bagaimana cara domba melakukan pukulan, bagaimana cara domba saat mundur dan kemudian kembali melakukan pukulan.
Domba Garut in action

   
Saling menatap
     Saat itu ratusan domba Garut akan menampilkan ketangkasannya untuk menyajikan suguhan yang menarik bagi para penonton. Domba pun masuk ke dalam arena kemudian mulai menunjukkan ketangkasannya. Sorak sorai penonton mulai terdengar, tatabeuhan gamelan pun semakin meriah, anak-anak kecil, remaja maupun orang dewasa ngigel (menari) ikut meramaikan suasana. Suara yang dihasilkan saat terjadi pukulan begitu keras hingga penonton pun semakin semangat untuk melihatnya. Saat kedua domba menampilkan ketangkasannya dan seimbang, melakukan pukulan dan kemudian mundur lalu melakukan pukulan lagi, penonton pun akan memberikan tepuk tangan yang meriah dengan teriakan-teriakan yang menyemangati kedua domba yang ada di arena. Itu tandanya penonton benar-benar terhibur dengan apa yang diperlihatkan oleh kedua domba yang sedang menunjukkan ketangkasannya masing-masing.

     Setelah semua domba selesai menunjukkan ketangkasannya, penonton pun mulai meninggalkan arena kontes. Domba-domba kembali dinaikkan ke atas mobil bak terbuka dan kembali ke tempat asalnya. Dan tentu saja bagi domba yang keluar sebagai jawara harga jualnya semakin melambung.

Dipijat di sela-sela pertunjukan


Terkapar

Kembali beraksi


Teks & Foto: Riman Saputra N