Categories

Sabtu, 08 November 2014

Candi Prambanan

WARISAN AGUNG PERADABAN HINDU

Lima meter lebih tinggi ketimbang Candi Borobudur, Prambanan merupakan candi mahakarya warisan kebudayaan Hindu di tanah Jawa. Berdiri sangat kokoh dan aggun merepresentasi keagungan peradabannya.



     Jika Anda kali pertama, bahkan sering ke Yogyakarta namun belum pernah mengunjunginya, cobalah meluangkan waktu. Sepertinya tidak lengkap ke Yogyakarta bila tidak mengunjungi Candi Prambanan.
Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, itu dibangun sekitar abad ke-9, tepatnya pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Dikenal juga dengan Candi Roro Jonggrang, letaknya sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.

     Ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya dunia (World Wonder Heritage) pada 1991, menuju Candi Prambanan yang setinggi 47 meter itu bisa ditempuh dengan mobil pribadi maupun angkutan umum. Dari pusat Kota Yogyakarta butuh waktu sekitar satu jam menuju kompleks candi seluas 39,8 hektar.

     Untuk memasuki areal candi yang, menurut legenda, dibangun Bandung Bondowoso guna memenuhi permintaan Roro Jonggrang ini, setiap pengunjung wajib membayar Rp 30 ribu. Sebelum masuk, saya yang bercelana pendek dipinjami kain batik untuk saya pakai. Harap tahu, untuk masuk candi tidak boleh memakai celana atau rok pendek.

     Di areal kompleks candi, terlihat reruntuhan berupa bebatuan besar mengelilinginya. Saat saya berkunjung Kompleks Candi Prambanan masih dalam proses renovasi menyusul kerusakan di beberapa bagian akibat gempa dahsyat yang melanda Yogyakarta pada 2006 silam. Namun, dari kejauhan candi-candi utama tampak tetap berdiri kokoh.

CANDI DAN ARCA

     Terdapat tiga candi utama berukuran lebih besar dibanding candi-candi lainnya. Tiga candi utama itu adalah Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiganya menggambarkan struktur dan inti kepercayaan dalam Hindu yang disebut Trimurti. Candi-candi pendamping berada di sekitarnya.

     Setelah berjalan menapaki tangga, saya memasuki beberapa candi. Dalam bangunan tertinggi, Candi Siwa, terdapat empat ruangan. Di salah satu ruangan bertengger Arca Durga (istri Siwa) yang disebut-sebut sebagai Arca Roro Jonggrang. Menurut legenda, inilah arca keseribu yang dibuat Bandung Bondowoso dari sosok Roro Jonggrang setelah ia merasa dicurangi perempuan itu.

     Di tiga ruangan lain masing-masing terdapat Arca Siwa, Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Sayang, saat itu saya berkesempatan melihat hanya Arca Roro Jonggrang karena masih berlangsung pemugaran di tiga ruangan itu.

     Sementara di ruangan Candi Wisnu, terletak di sebelah utara Candi Siwa, terdapat Arca Wisnu. Begitu pun Arca Brahma di ruangan Candi Brahma. Di candi yang lain, seperti dalam Candi Garuda, terdapat arca manusia setengah burung yang dikenal dengan Garuda, arca kerbau bertanduk satu, serta Arca Dewa Candra di dalam Candi Nandi.

RELIEF

     Selain arca, Prambanan juga memiliki relief di dinding candi yang wajib dilihat. Yang paling menarik tentu relief utamanya yang menggambarkan kisah Ramayana. Juga ada relief pohon kalpataru mengapit singa. Dalam Hindu, kalpataru adalah pohon kehidupan, kelestarian, serta keserasian.

     Jika cermat, ada juga relief burung yang tampak nyata dan natural. Menurut para biolog, salah satu burung pada relief tersebut adalah kakatua jambul kuning yang hanya bisa ditemui di Masakambing, pulau di tengah Laut Jawa.

     Di Kompleks Candi Prambanan juga terdapat museum yang menjelaskan seluk-beluk Candi Prambanan. Audio-visual tentang sejarah ditemukannya candi ini hingga proses pemugarannya bisa disaksikan di museum ini.

     Capek dan ingin beristirahat di tengah atau usai berkeliling kompleks, tak usah khawatir. Banyak pedagang penjual menjual makanan dan minuman, bahkan baju, aneka cindermata, hingga bebatuan.
Waktu-waktu tertentu pada malam hari, terdapat pula pementasan Sendratari Ramayana yang menerjemahkan kisah dari relief candi. Lain waktu saya akan menyaksikannya jika kembali ke Candi Prambanan.













Teks & Foto: Riman Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar