Categories

Sabtu, 08 November 2014

Kota Gudeg

NAIK BECAK KELILING YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta atau lebih dikenal dengan Jogja memang menjadi salah satu kota favorit untuk wisata, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Budayanya yang begitu kental menjadikan kota ini memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya budayanya saja yang menjadi daya tarik Jogja, wisata alam hingga wisata sejarah banyak ditemui di ‘Kota Gudeg’ ini.



     Saat itu saya pergi ke Jogja naik kereta api Lodaya Pagi dari Bandung. Kurang lebih 8 jam waktu yang dihabiskan di dalam kereta. Namun suasana yang nyaman serta pemandangan indah menemani di sepanjang jalan membuat waktu tidak terasa. Akhirnya saya tiba di Stasiun Tugu Jogja menjelang sore. Tujuan pertama adalah Tugu Jogja yang letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun.

TUGU JOGJA

     Saya berjalan menyusuri Jalan Mangkubumi sekitar 20 menit untuk sampai di landmark Kota Jogja yang paling terkenal. Tugu ini tepatnya berada di tengah perempatan Jalan Mangkubumi, Jalan Jend. Soedirman, Jalan A M Sangaji, dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang usianya hampir 3 abad ini menyimpan banyak sejarah dan memendam makna filosofis akan semangat perlawanan atas penjajahan.

     Tugu Jogja ini bisa dibilang ikonnya kota Yogyakarta, saking identiknya banyak mahasiswa perantau yang memeluk dan mencium bangunan ini setelah dinyatakan lulus. Setelah cukup puas memandangi landmark kota ini, saya mencoba naik Trans Yogyakarta menuju kawasan Malioboro, tempat saya menginap.

BECAK

     Keesokan harinya saya mulai menjelajahi Kota Gudeg mulai dari jam 8. Ada dua transportasi yang harus dicoba, becak dan andong. Kedua alat transportasi tradisional ini berjajar di sepanjang Jalan Malioboro. Becak menjadi pilihan saya untuk tur di kota yang sarat akan budaya ini. Tarif yang ditawarkan berkisar  20-30 ribu, tergantung berapa banyak tempat yang akan didatangi.

     Pengayuh becak membawa saya ke Jalan Kadipaten, tempat penjual batik yang legendaris, Batik Tirto Noto. Di seberangnya ada rumah abdi dalem yang juga sudah menjadi salah satu tempat wisata budaya. Di tempat ini kesan tradisional begitu kentara, mulai bentuk bangunan, perabotan, hingga gamelan Jawa. Selain itu disini juga sering diadakan pertunjukkan seni.

TAMAN SARI

     Selanjutnya becak membawa saya ke batik painting Suhardi yang berada di Taman Sari. Karya-karyanya banyak memiliki makna dan mitos. Suhardi mengatakan bahwa karyanya yang paling dicari adalah lukisan kereta kencana yang dipercaya bisa membawa keberuntungan.

     Kemudian saya diajak berjalan menuju Istana Air yang letaknya cukup dekat. Tempat ini lokasinya masih di dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta. Pengaruh Hindu, Budha, Jawa, Islam dan gaya Eropa terlihat di sebagian besar bagunan ini, termasuk pada gerbang masuk utamanya. Gapuranya bergaya asli Jawa dengan stilasi sulur-sulur tanaman, burung, ekor dan sayap burung garuda.

     Airnya begitu jernih ditambah tembok-tembok kecoklatan mengelilinginya. Ada tiga buah kolam yang terlihat disini, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra putri raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk raja).

KERATON

     Setelah melihat-lihat Istana Air Taman Sari, saya kembali naik becak menuju Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau lebih dikenal dengan Keraton Yogyakarta yang lokasinya tidak jauh. Tentunya ini adalah tempat yang paling wajib dikunjungi disini. Bisa dibilang, keraton ini adalah museum hidup kebudayaan Jawa dan sekaligus tempat tinggal Raja Jogja. Saat memasukinya, saya kagum karena ditengah perkembangan zaman, budaya Jawa tetap dilestarikan dan hasilnya menjadi daya tarik wisatawan asing dan lokal.

     Halamannya pun sangat luas dengan banyak ruangan yang bisa dimasuki. Peralatan gamelan khas Jawa berada di awal kunjungan ke keraton. Aktivitas para abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya bisa dilihat disini selain koleksi barang-barang keraton mulai dari lukisan, keramik, senjata, pakaian, hingga replika.  Bisa habis seharian untuk bisa mengelilingi kawasan keraton ini. Namun saya hanya menghabiskan sekitar 2 jam saja karena masih banyak tempat yang ingin didatangi.

GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA

     Di ujung selatan Jalan Ahmad Yani yang juga masih termasuk kawasan Malioboro terdapat Gedung Agung Yogyakarta atau istana kepresidenan Yogyakarta. Disinilah perjalanan saya naik becak berakhir. Bangunan yang awalnya merupakan rumah kediaman resmi residen ke-18 di Yogyakarta ini merupakan salah satu wisata sejarah di Kota Gudeg. Gedung ini memiliki sejarah penting karena pernah menjadi pusat pemerintahan saat menjadi Ibukota Republik Indonesia. Selain itu,  pelantikan Jendreral Soedirman selaku Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia juga dilakukan di gedung ini.

     Setelah melihat istana kepresidenan, saya menyebrang menuju Museum Benteng Vredeburg. Benteng yang dibangun pada 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Keraton Yogyakarta. Benteng segi empat dengan menara pengawas di keempat sudutnya ini juga dikelilingi oleh parit.

     Tidak terasa waktu telah lewat dari jam makan siang dan saya pun mencoba tahu penyet di Kedai Angkringan Margomulyo. Tempat dengan nuansa tempo dulu ini berada di seberang Pasar Beringharjo, yang juga berdekatan dengan Gedung Agung Yogyakarta.


MALIOBORO

     Selanjutnya saya berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro yang dalam bahasa Sansekerta berarti karangan bunga. Di sepanjang jalan ini berjajar penjual cenderamata muali dari batik, aksesoris, miniatur kendaraan, hingga lukisan. Saya ikut berdesak-desakan dengan ribuan orang baik itu wisatawan lokal maupun asing. Bisa dibilang disinilah denyut nadi perdagangan dan pusat belanja Yogyakarta.

     Berjalan-jalan di sepanjang Jalan Malioboro memang membuat waktu tidak terasa, hari pun semakin gelap dan saya masih menikmati suasana disini. Anak-anak muda Kota Gudeg yang tergabung dalam sebuah grup melengkapi malam dengan iringan lagu-lagu daerahnya beserta alat musik tradisional. Orang-orang yang berbelanja pun tak ada habisnya, jalanan ini benar-benar dipadati pengunjung.

     Saat malam tiba, kedai-kedai tenda lesehan mulai memadati satu sisi Jalan Malioboro. Saya pun menikmati makan malam di salah satu lesehan tersebut. Menunya tentunya gudeg, karena tidak lengkap ke Yogyakarta kalau tidak mencicipi gudeg.

     Setelah mengisi perut, saya kembali berjalan menuju ujung utara Jalan Malioboro. Di spot bertuliskan Jl. Malioboro terlihat banyak yang sengaja mengabadikan momennya di kota ini. Mereka saling bergantian untuk berfoto. Kemudian saya kembali ke hotel untuk beristirahat.

Rumah Abdi Dalem

Di dalam toko Batik Tirto Noto

Halaman Keraton

Alat musik di Keraton

Bank Indonesia

Benteng Vredeburg

Monumen Serangan Umum Maret

Pasar Beringharjo

Istana Air di Taman Sari

Penjual Batik di Malioboro

Gudeg di Lesehan Malioboro

Goreng burung dara di Lesehan Malioboro


Teks & foto: Riman Saputra N



6 komentar:

  1. Ini pak Suhardi pelukis yg di taman sari?
    Saya beli lukisan kereta kencana nya, katanya jodoh sama lukisannya, banyak org kesana niat mau beli tapi lagi gk ada lukisannya. Nggk tiap hari pak hardi bikin lukisan itu, harus ijin dulu sama Sri Sultan katanya.

    BalasHapus
  2. Betul hanya hari2 dan tanggal tertentu saja beliau bisa di ijinken untuk melukisnya

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah. . Kemarin saia ketemu beliau.. Dan tidak tau sebetulnya pak HR .Suhardi, pas ketemu saia ditawarin lukisan kereta kencana ... Alhamdulillah saia mendapatkan nya.. Lukisan itu

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah Saya juga dapet barusan, pas sateng langsung ditawarin, katanya ga bisa dipesan, si mbahnya mesti puasa sama ijin dari sultan

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah saya berjodoh dengan lukisan kereta kencana nya pak suhardi sudah saya bingkai dan dipajang

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah saya berjodoh dengan lukisan kereta kencana nya dan sekarang sudah saya bingkai dan di pajang sangat bagus sekali makasih pak suhardi anda emang the best

    Kontak yg diberikan kesaya hilang kalo boleh saya minta lagi no hp nya 🙏🙏🙏🙏

    BalasHapus