Categories

Rabu, 18 Juni 2014

Lumbah Suhi-suhi


DESA LUMBAN SUHI-SUHI  TORUAN
Pengrajin Ulos di Tengah Danau Toba

Bangunan sederhana beralaskan pasir menjadi tempat para penenun ulos tinggal. Sejumlah alat tenun ulos dan pemintal benang, hingga kain-kain ulos yang menggantung menjadi pemandangan yang asyik di Desa Lumban Suhi-suhi Toruan.


     Sejumlah ibu-ibu dan beberapa gadis muda tampak asyik menenun ulos di depan rumah sambil bercengkrama dibarengi jari-jemari mereka lincah memainkan benang-benang yang meluncur dan kayu-kayu yang menjepit. Itulahah gambaran singkat Desa Lumban Suhi-suhi Toruan, desa pengrajin ulos.


     Desa Lumban Suhi-suhi Toruan terletak di antara pelabuhan Tomok dan Kota Kabupaten Samosir, yaitu Pangururan. Butuh waktu sekitar 40 menit dari desa Tomok atau 20 menit dari Pangururan menuju desa pengrajin ulos ini melalui jalan darat. Ulos adalah kain terun khas Batak berbentuk selendang. Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin.

     Desa pengrajin ulos sebenarnya telah lama terbentuk dengan tujuan untuk melestarikan kain tenun khas Batak agar tidak punah seiring dengan berkembangnya mode yang semakin lama menyebabkan warisan Indonesia tersebut semakin tenggelam. Serta beberapa alasan lainnya untuk mempertahankan eksistensi kain ulos tersebut agar tetap digunakan pada momen-momen tertentu.
    
     Saat itu saya berangkat bersama rombongan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan desa ini merupakan salah satu tempat tujuan dalam rangkaian Jelajah Toba 2013.

     Indahnya danau Toba tersaji sepanjang perjalanan menuju desa yang kerap dikunjungi wisatawan asing maupun lokal karena kerajinan tenun ulosnya. Pemandangan Gunung Pusuk Buhit juga ikut mewarnai panorama tanah Batak ini. Selain itu, perkampungan Batak dengan rumah adatnya “Jabu Bolon” mengiringi perjalanan di sisi kiri dan kanan.


     Saat memasuki kawasan desa ini, terlihat para wanita setempat sedang menenun ulos di luar rumah maupun di bawah pohon sambil bercengkrama satu sama lain. Bangunan sederhana beralaskan pasir menjadi tempat para penenun ulos ini tinggal. Sejumlah alat tenun ulos dan pemintal benang hingga kain-kain ulos yang menggantung menjadi pemandangan yang asyik di desa ini.

     Di depan rumah, para wanita penenun ulos ada duduk di atas papan kayu dan juga ada yang di tikar dengan peralatan tenun di atas kaki mereka. Bilah-bilah kayu digerakkan, maju mundur untuk merapikan benang, dan mengencangkan tenunan. Sambil menenun, sebuah selongsong benang diluncurkan dari sudut kanan ke kiri serta sebaliknya untuk membuat motif. Mereka terlihat sangat menikmati aktifitas tersebut yang dilakukannya tiap hari.


     Alat tenun yang mereka gunakan pun masih sederhana. Bahan-bahan yang menunjang untuk teknologi itu juga didapatkan dari sekitar wilayah mereka tinggal. Seorang anak gadis terlihat menggulung dan merapikan benang dengan memutarnya pada sebuah alat seperti roda. Ada juga yang memisah-misahkan benang.

     Warga Desa Lumban Suhi-suhi Toruan tampaknya sudah terbiasa menerima pengunjung. Mereka tidak merasa terganggu saat kami datang dan memperhatikan mereka bekerja. Mereka juga tidak sungkan untuk mengobrol.

     Ibu Marudut (60 tahun), begitu ramah menyambut kedatangan kami. Sambil menenun ulos ia bercerita, bahwa keterampilan menenun ulos mereka dapatkan secara turun temurun dan dilakukan sejak usia muda. Hasilnya selain dijual langsung disini, mereka juga sering mendapat pesanan dari Karo, bahkan ada juga yang dari Jakarta. Tidak heran, gaung dari pamor Desa Lumban Suhi-suhi Toruan ini sudah tersebar hingga kancah internasional.

     Pengunjung yang datang ke desa ini dapat membeli ulos langsung dari tangan para penenun. Harganya berkisar antara 300 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah  untuk jenis ulos standar berbahan benang sutra. Sedangkan untuk ulos dengan kualitas tinggi bisa mencapai 1 juta hingga 5 juta rupiah.

     Saya rasa harga yang tidak relatif murah ini sangat layak mengingat proses pengerjaannya yang tidak mudah dan memakan waktu sekitar satu sampai empat minggu untuk satu kain ulos.


Persembahan untuk Pernikahan

      Masyarakat Batak umumnya menggunakan kain ulos pada acara-acara adat, pernikahan, pemakaman, maupun pesta marga. Buat pengunjung, ulos menjadi cinderamata dari tanah Batak. Menurut catatan, masyarakat Batak Toba dahulu hanya memakai kain ulos sebagai pakaian yang dibuat sendiri dengan cara menenun. Namun, sejak wilayah Samosir dikembangkan menjadi destinasi wisata, masyarakat melakukan kegiatan menenun ulos untuk dijadikan sebagai tanda mata bagi wisatawan.
   
     Tak hanya itu, dalam proses pembuatan kain tenun Ulos, para pengrajin menggunakan bahan-bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Hal itu berfungsi untuk menjaga kualitas kain tenun ulos agar tetap awet dan tidak mudah luntur.

     Selain itu bahan-bahan pewarna alami tersebut juga mudah di dapatkan di sekitar Pulau Samosir, sehingga para pengrajin tidak perlu mengeluarkan biaya yang lebih untuk membeli bahan-bahan pewarna buatan yang harganya cukup mahal, dan dapat mempengaruhi kualitas kain tenun Ulos.
 
     Kunjungan kami ditutup dengan nyanyian Ibu Marudut. Ia bernyanyi sambil mengenakan ulos berwarna merah. Suaranya begitu merdu melantunkan lagu dalam bahasa Batak. Walaupun tidak mengerti bahasanya, saya tetap bisa menikmatinya. Setelah itu ia pun mengiringi kami hingga kembali ke mobil.




Teks & foto: Riman Saputra N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar